• Sabtu, 4 Desember 2021

Desa Wisata Pertama tentang Edukasi Pemahaman Kebencanaan Ada di Aceh

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 03:11 WIB
Keindahan Desa Wisata Nusa di Kabupaten Aceh Bwsar (Kemenparekraf)
Keindahan Desa Wisata Nusa di Kabupaten Aceh Bwsar (Kemenparekraf)

TourismNews.id - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mendorong pengembangan wisata edukasi mengenai kebencanaan di Desa Wisata Nusa, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Desa Wisata Nusa merupakan salah satu desa wisata yang masuk ke dalam 50 besar desa wisata terbaik di Indonesia.

Desa Wisata Nusa tersebut dibangun oleh masyarakat sekitar pascabencana tsunami secara swadaya. Untuk sampai ke Desa Wisata Nusa, wisatawan hanya perlu menempuh jarak sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh. Menurut Menparekraf, desa wisata tersebut luar biasa, karena begitu memiliki daya tarik wisata alam yang memikat, dengan keindahan pemandangan Bukit Barisan.

"Selain dari pada potensi alam dan seni budaya, desa ini sangat potensial untuk pengembangan wisata edukasi tentang kebencanaan. Kami juga akan menyusun program wisata edukasi mengenai kebencanaan ini bersama dengan Prof. Azril Azhari dan Prof. Fatma Lestari dengan melibatkan Bupati Aceh Besar beserta jajarannya," ujar Sandiaga dalam siaran pers Kemenparekraf pada Rabu (20/10/2021).

Sandiaga juga ingin menggandeng BMKG, dunia usaha internasional yakni Rinkai Disaster Prevention Park asal Jepang, dan institusi pendidikan dalam proses pengembangannya. Ia menegaskan, dari 50 desa wisata yang masuk ke dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia, desa tersebut merupakan yang pertama kali dicanangkan untuk wisata edukasi tentang pemahaman kebencaan.

"Aceh ini memiliki history tentang tsunami pada tahun 2004. Kita ingin belajar dari apa yang terjadi dan kearifan lokal yang bisa kita edukasikan. Khususnya kepada para pelajar,” ujarnya.

Keberadaan Desa Wisata Nusa yang cukup lama dikenal tersebut didirikan pada tahun 2010. Tidak hanya dikenal di kalangan wisatawan nusantara, tetapi juga wisatawan mancanegara yang mayoritas berasal dari Malaysia, Thailand, serta Singapura. Hal ini dikarenakan, desa tersebut terus mengembangkan wisata berbasis masyarakat.

Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, sekaligus menjaga lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, masyarakat desa terus mengembangkan potensi lokal yang dimiliki, kemudian diramu menjadi berbagai atraksi wisata menarik. Sehingga, perpaduan antara alam dan budaya yang sangat kental dapat dihadirkan.

Menurutnya, ini adalah tren baru pariwisata Indonesia, yakni pariwisata berbasis komunitas, kemudian membuka lapangan kerja untuk masyarakat, serta terbuka peluang untuk pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

“Karena selama ini fokus kita kuantitas, dan wisatawan mancanegara selalu jadi andalan. Padahal kita punta wisatawan nusantara yang ingin merasakan bagaimana eloknya pemandangan Bukit Barisan, dan merasakan bagaimana rasanya berkemah dan mencicipi kuliner lokal di sini,” pungkas Sandiaga.***

Halaman:

Editor: Arif Kusuma Fadholy

Tags

Terkini

X